4 Cara Asyik Berkomunikasi dengan Anak yang Memendam Masalah

Senin, 09 September 2019


Pernah melihat anak tersayang tiba-tiba murung?

Atau mendadak cuek tak peduli, apalagi peka dengan sekitar?

Pernah mendapati buah hati tercinta mendadak mengunci diri di kamarnya?

Apa yang sebaiknya kita lakukan, bila anak seperti memendam masalah seperti itu?

Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Segala keperluan anak berusaha dipenuhi dan perhatian pun terlimpah. Semua dilakukan agar anak mendapatkan yang terbaik saja.

Ada kalanya orang tua harus berkompromi dan berdamai dengan anak pada hal-hal tertentu. Mereka memiliki keinginan yang kadang berbeda dengan orang tua. Namun, kendali seharusnya tetap di tangan orang tua. Hal ini karena orang tualah penentu kebijakan di rumah. Anak harus patuh, tetapi juga harus dimengerti.

Penting untuk diperhatikan, bahwa anak memiliki keterbatasan berpikir. Orang tua harus memaklumi keterbatasan anak dengan cara memahami kekurangannya dan memaafkan kesalahannya. Akan tetapi, tidak jarang anak menyimpan atau memendam masalah, bahkan hingga dewasa.

Apa alasan anak memendam masalah?

Ternyata tidak semua orang tua memahami apa yang menyebabkan anak memendam masalah. Perasaan takut atau malu  membuat anak enggan menyampaikan masalahnya dengan terus terang. Juga perasaan bahwa masalahnya tidak penting dikemukakan dan kekhawatiran akan bertambah besarnya masalah.

Bila dibiarkan berlarut-larut, akan berdampak buruk pada jiwa anak dan menyebabkan depresi. Anak yang depresi akan mudah tersinggung. Bahkan cenderung mengamuk. Perasaannya sedih dan hampa karena menganggap diri dan hidupnya tak berguna. Nafsu makan bisa meningkat karena ingin menenangkan diri atau kurang nafsu makan karena tidak ada gairah hidup.

Baca juga:

Ini, Lo, 5 Tips Mudah Kendalikan Emosi Anak

Sedemikian menyedihkannya akibat buruk memendam masalah pada anak. Pada usia saat daya nalarnya baru saja berkembang dan jiwanya masih labil, anak tentu membutuhkan pendampingan untuk mengurai satu per satu masalah pelik yang dihadapi.

Orang tua bisa mengambil cara asyik berikut ini agar mudah berkomunikasi dengan anak yang memendam masalah.

1. Sering Berkegiatan Bersama dan Dialog

Sering bersama anak membuat orang tua lebih mudah berdialog membicarakan banyak hal dan mengorek informasi tentang masalah yang dihadapi anak. Rasa nyaman bersama orang tua akan membuatnya tidak segan berbagi cerita.

2. Hargai Keputusan Anak

Orang tua perlu mendengar alasan anak mengambil suatu keputusan. Selama untuk kebaikan dan dia paham konsekuensi yang akan dihadapinya, maka menghargai keputusannya adalah langkah terbaik.

3. Yakinkan Anak Bahwa Orang Tua  Dapat Membantu

Meyakinkan anak bahwa orang tua adalah tempat berbagi cerita terbaik harus dibiasakan sejak anak di fase awal perkembangannya. Rahasiakan bila ada yang harus dirahasiakan. Ibaratkan orang tua ada di posisi anak agar tumbuh empati dan berusaha mencari solusi. Bila sulit dicari jalan keluar, orang tua meminta tolong kepada orang dekat yang terpercaya, dan pastikan anak mempercayai orang tua.

4. Buat Anak Menyadari Bahwa Masalah Ada Untuk Dipecahkan, Bukan Dipendam

Anak harus dipahamkan bahwa masalah yang dipendam akan makin berlarut-larut. Bahkan, bisa muncul masalah baru. Banyak penyakit muncul akibat tidak bisa mengungkapkan isi hati. Memendam masalah bukan perilaku yang baik dan anak harus yakin akan hal ini.

Sebagian orang mungkin menganggap anak memendam masalahnya sendiri adalah hal biasa. Hal ini tidak boleh diterapkan pada anak kita. Kecenderungan memendam masalah malah akan menimbulkan masalah untuk diri sendiri.

Waspadalah terhadap setiap perilaku tak biasa pada anak. Biasakan komunikasi menyentuh hal penting menyangkut privasinya. Jangan sampai anak beranggapan memendam masalah itu hal biasa.

#Day7
#ODOP
#Estrilook



Ini, lo, 5 Tips Mudah Kendalikan Emosi Anak

Jumat, 06 September 2019


Sedih karena emosi anak tidak terkendali?
Sulit berkomunikasi dengan anak yang mudah emosi?

Komunikasi dengan anak merupakan cara efektif mentransfer nilai-nilai kehidupan. Segala pemikiran, harapan, impian, dan aturan hidup orang tua dituangkan dengan cara berkomunikasi. Itulah sebabnya, mengapa setiap orang tua perlu mempelajari cara berkomunikasi yang baik dan tepat di setiap tahapan usia anak.

Salah satu fungsi penting komunikasi adalah untuk mengelola emosi. Baik emosi orang tua, maupun emosi anak. Bagaimana mungkin mengajarkan anak mengelola dan mengendalikan emosi, bila orang tua belum mampu meredam emosinya sendiri? Perlu kegigihan untuk mengupayakan bagaimana mengetahui cara komunikasi yang patut dengan anak dalam keadaan tertentu.

Pertanyaannya: Apakah emosi itu?
Sebagian menganggap emosi adalah amarah. Lingkungan kehidupan kita memaknai emosi dengan rasa marah yang meledak-ledak.

"Sikapmu menyebalkan, bikin aku emosi saja!"

"Kata-katanya terlalu pedas, Bu. Aku jadi emosi."

Seperti itukah kita mengartikan emosi? Ternyata, emosi tidak sebatas amarah saja. Menurut Wikipedia, emosi adalah
> perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu.
> reaksi terhadap seseorang atau kejadian
> dapat ditunjukkan ketika senang terhadap sesuatu atau seseorang, marah, sedih, takut, terkejut, dsb.

Jadi, pada dasarnya, emosi adalah dorongan untuk bertindak. Bisa disebabkan karena rangsangan dari luar maupun dari dalam individu.

Menurut para ahli, emosi mewakili berbagai bentuk perasaan manusia.  Ada emosi positif, ada pula emosi negatif sehingga bukan perasaan marah saja yang disebut emosi. Karena emosi menggambarkan  perasaan maka perasaan seperti dengki, cemburu, cinta, benci, malu, dan takut adalah juga termasuk emosi.

Emosi selalu ada pada diri setiap orang. Begitu besar pengaruhnya sehingga mewarnai seluruh kehidupan. Orang tua harus berupaya mengendalikan emosinya agar selanjutnya mampu mengendalikan emosi anaknya.

Bagaimana tips mudah mengendalikan emosi anak?

1. Mengenali dan Mengidentifikasi Perasaannya, Seperti Sedih, Marah, Kecewa, dll.

Anak-anak harus dikenalkan sedini mungkin hal apa saja yang dirasakannya. Seiring pertumbuhan dan perkembangannya, emosi alaminya akan terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.

2. Bersikap Tenang

Orang tua yang mendadak menunjukkan kepanikan saat anak emosi justru membuat anak makin tidak nyaman. Hal ini karena anak sebenarnya ingin dimengerti dan ingin mendapatkan perhatian.

3. Mengalihkan Perhatian

Bila muncul emosi negatif, anak akan rewel, suntuk, dan sulit ditenangkan. Orang tua perlu menelisik apa penyebabnya. Namun, bisa jadi anak seperti itu hanya perlu dialihkan perhatiannya kepada hal-hal kesukaannya yang menyenangkan, seperti bersepeda, berenang, atau melakukan perjalanan bersama.

4. Memberikan Pelukan dan Perhatian

Pada usia tertentu, anak membutuhkan dukungan hanya berupa pelukan dan perhatian orang tua saja. Emosi yang dirasakan anak kadang tidak berhubungan dengan siapa pun dan apa pun, selain hanya keresahan dirinya saja, terutama bagi anak di bawah usia 6 tahun.

5. Mengajak Diskusi Bila Sudah Tenang

Mencoba menyelesaikan masalah saat anak di ujung rasa emosinya hanya akan menuai kekecewaan. Orang tua perlu membaca situasi kapan saat yang tepat menyelesaikan masalahnya.

Orang tua sering tidak menyadari, kadang anak emosi justru disebabkan oleh sikap dan kata-kata orang tua yang kurang memahami kondisi anak. Untuk itu, menjaga lisan dan perbuatan dari kata-kata dan sikap yang tidak tepat perlu diperhatikan orang tua agar anak terjaga dari emosi tak terkendali yang menyulitkan.

Kasih sayang dan perhatian orang tua dan orang terdekatnya adalah dukungan terbaik anak mengatasi segala bentuk emosinya.

#Day6
#ODOP
#EstrilookCommunity

5 Langkah Bijak Menyikapi Anak yang Jatuh Cinta

Kamis, 05 September 2019



Mencintai adalah fitrah manusia. Setiap jiwa memiliki rasa ingin mencintai dan dicintai. Bagaimana agar fitrah cinta itu tetap berada di jalur yang benar, itu yang harus diperhatikan.

Masa remaja adalah masa pada saat anak kita mulai mengenal cinta. Interaksi dan pengaruh lingkungan memungkinkan mereka mengalami saat-saat di mana ada debar tak biasa dalam hati mereka. Saat kematangan berpikir semakin berkembang, ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal yang lumrah. Namun, sebagai orang tua, kita harus mengarahkan agar cinta itu tidak berbuah petaka. Bila telanjur menjadi petaka, bukan hanya anak yang menderita, tetapi orang tua juga.

Bila anak kita telanjur jatuh cinta, adalah tidak bijak bila kita langsung memarahi, apalagi menghujat. Akan tetapi, juga tidak berarti membiarkan mereka mengekspresikan rasa cinta mereka sebebas-bebasnya, hingga melewati batas dan melanggar norma agama.

Lantas, bagaimana kita menyikapinya?? Apakah harus segera dihentikan karena mengganggu belajarnya? Apakah dibiarkan saja agar makin semangat belajarnya? Mari kita simak uraian berikut ini.

1. Tanamkan di Hati Anak Cinta kepada Allah Sebagai Rasa Cinta Tertinggi.

Jangan pernah lelah menancapkan nilai-nilai agama di hati dan pikiran mereka karena umumnya anak remaja masih berjiwa labil. Tunjukkan bagaimana cara berteman yang baik dengan lawan jenis, bagaimana batasannya, dan bagaimana agama mengatur hal ini. Cinta kepada Allah akan memunculkan rasa takut bila melanggar aturan-Nya. Oleh karena itu, sedini mungkin anak harus dibiasakan cinta kepada Allah di atas cinta yang lain. Cinta kepada Allah diwujudkan dalam bentuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

2. Bersiaplah menjadi Teman Curhat

Siapkan waktu, telinga, dan hati yang luas untuk mendengarkan curahan hati mereka. Meskipun tidak semua anak mau curhat kepada orang tua, tetapi berusahalah memahami bagaimanapun caranya. Bisa dengan bahasa tubuh maupun bahasa rasa. Jadikan anak tidak merasa sendiri dan berkutat dengan dirinya sendiri, hingga salah dalam mengambil langkah. Akan tetapi, jangan terlalu menginterogasinya seolah anak telah melakukan kesalahan besar. Bersikaplah yang wajar.

3. Cari Tahu Apa Alasan Mencintai

Orang tua perlu mencari tahu apa alasan anak jatuh cinta. Bila karena ketertarikan fisik, kesamaan hobi, atau kedekatan semata, maka jelaskan secara perlahan bahwa semua itu bisa hilang ditelan waktu. Arahkan anak agar siap bila suatu saat cinta itu pergi. Siapkan mentalnya agar tidak terlalu kecewa.

4. Biarlah Mereka Merasakan Degup Cinta

Setiap orang secara alami akan  merasakan degup-degup indah tanda hadirnya cinta di hati. Bila terjadi pada anak remaja kita, tak perlu memarahi dengan meminta mereka menghilangkan rasa itu. Ibarat api yang dipadamkan seketika, akan muncul kobaran api raksasa yang membutuhkan lebih banyak energi untuk memadamkannya. Demikian pula cinta. Bila dipadamkan paksa dan tiba-tiba, maka akan menjadi semakin berkobar melalap ruang kesadaran.

5. Doronglah Anak-anak Berkegiatan Positif

Doronglah anak untuk aktif dalam majelis-majelis ilmu, aktif berorganisasi, atau aktif mengembangkan minat dan bakat mereka. Dengan demikian, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, tangkas, penuh inisiatif, dan berakhlakul karimah.

Semoga Allah senantiasa memudahkan kita menjadikan anak-anak kita menjadi pribadi yang mulia, insan bertakwa, yang senantiasa menjadikan cinta kepada Allah sebagai cinta terindah di hati mereka.

(Disarikan dari berbagai sumber dan pengalaman pribadi)


#day5
#ODOP
#EstrilookCommunity

5 Cara Mudah Berkomunikasi dengan Anak Pendiam

Rabu, 04 September 2019

Punya anak pendiam? Merasa kesulitan berkomunikasi dengannya? Tenang .... Tidak perlu bersedih. Anak pendiam belum tentu sedang memendam masalah. Bisa jadi, memang karakternya seperti itu atau karena faktor keturunan.

Anak pendiam adalah anak yang tidak terlalu suka berkomunikasi dan cenderung menyendiri. Sebagian orang tua tidak mempermasalahkan tipe anak seperti ini, terlebih apabila orang tua atau anggota keluarga lain juga seorang pendiam.

Akan tetapi, orang tua tetap harus tanggap apa yang membuat anak menjadi pendiam. Kalau pendiamnya anak karena memang terbukti dia tidak terlalu suka banyak bicara, maka dia tetap bersosialisasi dengan baik, tetap kritis, dan tetap menyatakan pendapat. Namun, bila anak menjadi pendiam dan memisahkan diri dari pergaulan terus menerus hingga dia nyaman dengan kesendirian, maka orang tua sebaiknya melakukan lima cara berikut ini.

1. Cari Tahu Alasan Anak Menjadi Pendiam

Menanyakannya secara langsung mungkin tidak mudah. Tidak perlu terburu-buru mendapatkan jawaban dan maklumi saja dulu diamnya. Anak yang nyaman dengan diam antara lain berawal dari:
👉 terlalu sering diabaikan
👉 terlalu sering disalahkan/dimarahi
👉 dianggap tidak berguna
👉 malas bergaul karena tidak sesuai isi hatinya atau tidak ada kecocokan
👉 malu
👉 cuek/tidak peduli sekitar
👉 pernah mengalami kegagalan
👉 sering merasa kecewa dalam pergaulan

Mana yang kira-kira menjadi penyebab diamnya anak harus digali pelan-pelan. Kemudian segera mengupayakan jalan keluarnya agar tidak berlarut-larut hingga dewasa.

2. Dukung Anak Mencari Kegiatan Sesuai Minatnya

Anak menjadi malas bicara dan beraktivitas bisa jadi karena tidak sesuai dengan minatnya. Baginya, diam lebih baik daripada bicara yang hanya membuatnya dimarahi. Mendukung anak agar mencari kegiatan sesuai minat dan bakatnya akan membuka cakrawala berpikirnya dan meningkatkan rasa percaya dirinya.

3. Bantu Anak Mengungkapkannya

Anak pendiam bisa jadi bukan karena dia tidak peduli atau cuek. Mereka tidak mengerti bagaimana cara yang tepat mengungkapkan isi hati dan pemikirannya. Biarkan anak bicara, dan dengarkan dengan seksama. Tidak perlu menyela, mendebat, atau terburu-buru menyalahkan, maka anak akan mencoba bicara tanpa dipaksa.

4. Tidak Membandingkan dengan Anak Lain

Anak menjadi banyak bicara atau lebih banyak diam adalah karena dipengaruhi banyak faktor. Bisa karena dari dirinya sendiri, bisa juga karena faktor dari luar. Karena itu, jangan pernah membandingkan anak yang satu dengan yang lain karena pasti tidak akan sama. Dibandingkan dengan anak lain justru membuat anak malas berkata dan berekspresi karena khawatir disalahkan atau dibandingkan.

5. Puji Perubahan Sikapnya Agar Terus Berprestasi

Sekecil apa pun perubahan anak dari pendiam dan antisosial menjadi mulai suka merespon dan mulai berinteraksi, harus diapresiasi dengan baik oleh orang tua. Harus ada upaya membuat anak merasa diperhatikan dan berarti. Pelan-pelan, dia akan merasakan bahwa diam tidak selalu baik dan berbaur/bersosialisasi tidak selalu mengecewakan.

Meskipun anak pendiam tidak selalu anak yang tidak percaya diri, tetapi bagaimanapun kepercayaan diri berpengaruh pada cara anak berkomunikasi dan bersosialisasi.

Adalah tugas orang tua membuat anak nyaman dalam segala situasi, baik saat sendiri maupun saat bersama. Baik karena ingin diam tanpa ada masalah, maupun diam karena memendam masalah. Membiarkan anak diam karena memendam masalah akan berakibat tidak baik pada perkembangannya. Dia akan merasa tertekan, selalu dalam perasaan benci pada hal yang dipendam, kemudian suatu saat akan meledak dan mempengaruhi kesehatan mental dan psikisnya.



#Day4
#ODOP
#EstrilookCommunity



Ini, Nih, Perbedaan Anak Kritis dan Anak Pembangkang ( Bagian 2 - tamat)

Selasa, 03 September 2019


Seperti telah diuraikan pada bagian satu, bahwa anak kritis berbeda dengan anak pembangkang. Anak pembangkang cenderung mencari celah untuk menolak menjalankan perintah, mau menang sendiri, dan memberikan argumen atau reaksi emosional yang keras kepada orang tuanya, sedangkan anak kritis  menyampaikan pendapat dan pemikiran yang berbeda dengan orang tua bertujuan untuk mencari kebaikan bersama, agar keselarasan dan keharmonisan dalam keluarga dapat terwujud.

 Baca juga:

Ini, Nih, Perbedaan Anak Kritis dan Anak Pembangkang (Bagian 1)

Sudah pasti orang tua akan sedih bila buah hati menjadi pembangkang. Perlu upaya serius yang bisa mengurangi sifat pembangkangnya agar tidak menetap hingga bertambah usia anak. Cara-cara berikut ini bisa dicoba untuk menghadapi anak pembangkang.

1. Fokus tentang Apa yang Harus Dilakukan

Orang tua yang menginginkan suatu sikap atau tindakan tertentu harus fokus pada apa yang harus dilakukan, bukan pada kesalahan anak kemudian mengungkapkannya dengan kekesalan dan bertele-tele. Ingin anak belajar dan mengaji pada jam yang disepakati, maka orang tua langsung fokus pada penegakan aturan, bukan mengomentari apalagi mengomeli tindakan anak yang belum sesuai aturan.

2. Tetap Tenang Saat Anak Bereaksi Negatif

Anak pembangkang memiliki kemampuan yang kadang sulit diprediksi. Mereka menggiring pada situasi di mana orang tua tidak mampu menguasai diri hingga muncul perdebatan. Menahan diri dan tidak emosional melihat bagaimana pun bentuk pembangkangan anak membuat situasi tidak semakin runyam. Lambat laun anak akan segan dan berpikir ulang bila setiap membangkang, orang tuanya selalu meluruskannya dengan argumentasi yang tepat sasaran dan tidak emosional. Bila suatu saat orang tua tidak tenang dan sulit mengontrol diri, tinggalkan anak sejenak. Netralkan hati dan pikiran, tarik napas panjang, berwudu, Istighfar, dan lanjutkan lagi saat hati sudah tenang.

3. Tidak Memberikan Argumen Balik kepada Anak

Kadang anak pembangkang menemukan celah yang memicu orang tua melakukan argumen balik. Dia akan terus memprotes dan menyanggah dan argumen balik dari orang tua justru membuatnya menemukan hal-hal baru untuk ditolak. Karenanya, argumen balik tidak perlu dilakukan. Cukup bereaksi tegas, tetapi tidak menekan, tepat sasaran, dan mengunci jawaban agar anak tidak lagi menemukan celah untuk membantah atau membangkang.

4. Beri Apresiasi Saat Anak Patuh

Anak-anak melakukan tindakan pembangkangan karena ada celah untuk melakukanya, tidak selalu karena dorongan dari dirinya sendiri. Saat anak sekali waktu patuh, berikan apresiasi agar merasa dirinya tidak dilabeli sebagai anak pembangkang. Reaksi positif atas kepatuhannya perlu dilakukan orang tua agar anak mengerti bahwa perilakunya yang baik akan diapresiasi dengan baik pula.

5. Jadi Teladan Terbaik bagi Anak

Orang tua adalah contoh terdekat dan terbaik bagi anak. Segala perkataan dan perbuatannya adalah parameter bagi anak dalam berkata dan bersikap. Oleh kareba itu, selalu bersikap patuh pada aturan dan konsisten akan menjadikan anak pelan-pelan meyakini bahwa tindakan pembangkangan yang dilakukannya keliru.

Penanaman aturan dan norma bukanlah proses yang singkat. Perlu kegigihan, kesungguhan, dan konsistensi dalam menegakkannya sehingga anak terbiasa dan dengan kesadaran mau menjalankannya.

Bersabar menikmati proses dan setiap jengkal keberhasilan adalah cara mudah agar upaya menjadikan anak menjadi patuh lebih berarti. Tidak perlu terburu-buru menikmati hasil, meski kita teramat mengharapkannya. Dengan upaya terus menerus, mengubah perilaku negatif anak pembangkang akan berhasil dilakukan. Selalu melangitkan doa dan memohon kepada Allah agar hati anak lembut harus terus dilakukan. Insya Allah, pada saatnya, anak akan seperti yang kita harapkan.


#Day3
#ODOP
#EstrilookCommunity


Ini, Nih, Perbedaan Anak Kritis dan Anak Pembangkang (Bagian 1 dari 2 tulisan)

Senin, 02 September 2019

Sebagai orang tua, tentu kita paling tidak suka dengan anak pembangkang. Anak pembangkang adalah anak yang melawan dan suka menentang atau menyanggah orang tua. Mari kita lihat definisinya  di KBBI.

Pembangkang adalah:
👉 orang yang melawan (perintah, dan sebagainya)
👉 orang yang merintangi kemajuan
👉 penentang; penyanggah

Membaca definisinya, membangkang memiliki konotasi negatif dan berhubungan dengan hal-hal yang bersifat destruktif.

Apakah anak pembangkang adalah anak yang kritis? Atau anak yang kritis adalah pembangkang?

Anak pembangkang berbeda dengan anak kritis. Anak  pembangkang cenderung melakukan hal berlawanan dengan orang tua. Dia melakukan atau tidak melakukan segala sesuatu lebih karena keinginan menunjukkan jati dirinya, menunjukkan bahwa dirinya mampu , dan dorongan untuk tampil beda. Mari kita amati anak- anak pembangkang di sekitar kita! Mereka melakukan tindak pembangkangan karena tiga hal.

1. Karena Lemahnya Kedisiplinan yang diterapkan Orang Tua.

Orang tua mungkin sudah berlaku tegas pada anak agar suatu aturan ditegakkan. Namun, rasa sayang yang terlalu besar, keinginan melindungi yang terlampau tinggi, dan kemauan anak pun rendah dalam menegakkan kedisiplinan, maka mengakibatkan orang tua tidak mampu berkata "tidak" ketika anak menuntut keinginannya  dikabulkan.

2. Karena Orang Tua Menutut Kepatuhan Instan pada Anak dan Mengabaikan Proses

Aturan dibuat memang untuk dipatuhi. Akan tetapi, aturan tidak selalu selaras dengan kemauan anak dan keinginannya berekspresi. Menuntut anak langsung patuh tanpa proses pendekatan, pengertian atas kondisi anak, dan kesungguhan memahami situasi batinnya, akan sia-sia. Orang tua akan menemui kekecewaan karena anak makin diatur makin berontak.

3. Karena Orang Tua Otoriter dan Kadang Tidak Konsisten

Orang tua yang otoriter akan mendominasi anak, banyak mengomel, dan perfeksionis. Juga tidak berusaha membuka diskusi dengan anak dan mencari jalan tengah terbaik agar keinginan kedua belah pihak terpenuhi. Atau bila anak memilih patuh, dia akan patuh dengan paksaan, bukan karena kesadaran.
Selain itu, tidak konsistennya orang tua menerapkan kedisiplinan juga membuat anak akhirnya memilih punya aturan sendiri. Sikap perfeksionis orang tua yang selalu menuntut kesempurnaan anak juga menjadi beban bagi anak. Tidak ada ruang baginya menjadi diri sendiri, kurangnya pendampingan orang tua, dan kurang memahami kondisi, membuat anak merasa tidak nyaman, hingga akhirnya membangkang.

Tidak banyak yang menyadari, anak kritis itu sebetulnya bentukan orang tua dan lingkungan dengan kesadaran. Juga merupakan produk atau hasil usaha terus menerus orang tua sejak anak di fase awal perkembangannya hingga fase akhir atau memasuki usia dewasa. Anak kritis menyampaikan pendapat dan pemikiran yang berbeda dengan orang tua bertujuan untuk mencari kebaikan bersama, agar keselarasan dan keharmonisan dalam keluarga dapat terwujud, sedangkan anak pembangkang adalah akibat negatif dari perilaku salah orang tua atau pergaulan anak yang keliru.

Anak pembangkang cenderung mencari celah untuk menolak menjalankan perintah, mau menang sendiri, dan memberikan argumen atau reaksi emosional yang keras kepada orang tuanya.

Orang tua tentu menginginkan anak yang kritis, bukan anak yang pembangkang. Meskipun dalam pandangan anak, membangkang adalah bentuk ekspresi diri dan wujud keinginannya untuk dimengerti, orang tua tidak perlu terjebak mengikuti keinginan anak bila telah jelas dia melanggar aturan. Terlebih bila aturan itu adalah sesuatu yang telah disepakati bersama.

Menghadapi anak pembangkang, orang tua harus memberikan reaksi yang benar. Pahami dan maklumi dulu, kemudian menahan diri dari bereaksi lebih keras dan lebih emosional karena hanya akan membuat anak memiliki celah untuk menyanggah atau bahkan memberontak. Bagaimana cara menghadapi anak pembangkang? Insya Allah, akan dilanjutkan pada tulisan berikutnya.


#Day2
#ODOP
#EstrilookCommunity



Membacakan Buku untuk Anak: Upaya Mencerdaskan Sejak Dini

Minggu, 01 September 2019
Setiap orang tua tentu ingin anaknya cerdas. Keinginan membuat anak cerdas dimulai sejak masih dalam kandungan. Mulai memberi makanan bergizi, memperdengarkan musik religi atau bacaan Alquran, hingga memberi stimulus-stimulus lain oleh ibu. Apa tujuannya? Tentu agar anak menerima banyak informasi sejak masih dalam kandungan.

Setelah dilahirkan, anak juga diberi banyak stimulus sesuai tahapan usia. Tujuannya tidak lain adalah agar anak cerdas, berani mencoba hal baru, dan selalu tertarik untuk belajar.

Termasuk dalam upaya mencerdaskan anak adalah membacakan buku. Sebagian ibu melakukan hal ini saat anak masih dalam kandungan. Penelitian para ahli menyebutkan bahwa membacakan buku saat bayi masih dalam kandungan membuat perkembangan otaknya berkembang pesat.

Adapun tiga manfaat membacakan buku pada janin adalah sebagai berikut.

1. Merangsang Gerak Janin

Saat cerita dibacakan, ibu bisa mengusap perut atau berkomunikasi dengan suara lembut. Sentuhan ibu akan dihantarkan oleh kulit perut dan air ketuban pada janin. Pada usia kehamilan tertentu, janin akan memberikam respons balik berupa tekanan dari dalam.

2. Mengenalkan Janin pada Orang Terdekat

Bayi baru lahir akan memberikan respons yang sangat baik terhadap orang di dekatnya yang sering didengar semasa masih dalam kandungan. Hal ini tentu membuat bayi lebih mudah ditenangkan karena telah hafal dengan suara orang di dekatnya.

3.  Menstimulasi Pendengaran dan Respons terhadap Suara
   Pendengaran dan 
Kemampuan mendengar bayi sudah berfungsi dan mampu merespons suara saat usia kehamilan 25 minggu, meskipun perut ibu dikelilingi air ketuban. Stimulasi yang konsisten di usia ini akan membuatnya lebih banyak belajar dengan mengenal suara-suara baru.

Saat mendengarkan cerita yang dibacakan oleh ibu, janin mencoba menyerap berbagai informasi dari suara yang didengar. Hal ini membuat otak janin menjadi lebih aktif. Tidak hanya itu, hubungan ibu dan anak tentu makin terbentuk dan keduanya jadi lebih rileks.

Jangan khawatir merasa terlalu cepat mengajak janin belajar banyak hal. Aktivitas sederhana ini akan berpengaruh besar saat sudah di usia balita. Anak yang mendapat banyak stimulus sejak dalam kandungan relatif lebih cerdas, lebih responsif, dan lebih mudah belajar bahasa.

Bagaimana setelah anak lahir? Tentu saja aktivitas membacakan buku ini sebaiknya dilanjutkan. Sebagian orang tua mungkin tidak membacakan buku kepada buah hatinya dengan alasan tidak ada waktu atau malas. Sebagian lagi malah menganggap tidak perlu. Padahal, membacakan buku pada anak memiliki banyak manfaat, di antaranya:

1. Melatih Anak Berimajinasi

Membacakan buku, terlebih buku petualangan akan memperkaya wawasannya dan merangsang daya imajinasinya. Sambil membaca, bisa disisipkan nilai-nilai kehidupan.

2. Menambah Kosakata Baru

Mendengarkan dan menyimak buku yang dibacakan membuat anak belajar banyak kosakata baru. Malin banyak mendengar, makin baik pula kemampuan bicaranya.

3. Membangun Kemampuan Berpikir Anak

Dengan mendengar banyak hal baru dari buku yang dibacakan, membuat anak melatih konsentrasi, melatih atensi, mengembangkan kemampuan nalarnya, sekaligus kemampuan menggunakan kata-kata.

4. Membantu Anak Mengenal Konsep

Anak yang rutin dibacakan buku tidak hanya menambah kosakata baru dan mengembangkan daya nalarnya, tetapi juga belajar mengenal konsep tentang segala sesuatu yang ada di sekitarnya, seperti bentuk, warna, angka, huruf, sebab akibat, dan sebagainya. Hal ini penting untuk bekal anak mempelajari hal penting lain di masa yang akan datang.

Sederet manfaat di atas bisa diwujudkan apabila ada kesungguhan dari orang tua, terutama ibu, untuk menyisihkan sebagian waktunya membacakan buku untuk anak. Membacakan buku tentu akan meningkatkan kualitas hubungan ibu dan anak. Pilihlah buku yang menarik, baik dari covernya maupun isinya. Bacakan dengan penuh cinta dan tidak terburu-buru. Yang tidak kalah penting, perhatikan intonasi suara dan buatlah anak bahagia saat mendengarkan.

Mengapa sebaiknya memilih buku yang covernya menarik? Ternyata, bagian luar buku bisa membuat anak penasaran dengan isinya. Terlebih lagi, bila anak sudah mulai lancar berkomunikasi dan mulai bisa mengeluarkan pendapat, anak akan memilih yang warnanya terang, gambarnya lucu, dan membuatnya ingin segera melihat isinya.

Seperti pictbook terbitan Wonderland Publisher berikut ini. Warnanya yang cerah dan gambarnya yang lucu membuat anak tertarik ingin tahu isinya. Ada tiga macam dalam satu paket, yaitu tentang hewan, buah, dan sayur, berisi puluhan cerita nasihat yang mudah dicerna untuk anak usia 6 sampai 12 tahun. Bila sudah lancar bisa membaca, jadikan anak memiliki rutunitas membaca buku setiap harinya agar harinya lebih bermakna.



#Day1
#ODOP
#EstrilookCommunity