Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Anak Anda Terus Menolak Tidur Siang? Lakukan 4 Hal Ini Agar Anda Tenang

Kamis, 14 Mei 2020



Siapa yang masih uring-uringan mengajak anak tidur siang?

Mengapa Anda begitu ngotot memaksa anak tidur siang?

Mengapa Anda tidak memberikan keleluasaan bagi anak Anda untuk memilih waktu tidur siang setiap harinya?

Hayo ngaku ... Anda termasuk orang tua yang bagaimana? Ngotot mengharuskan anak tidur siang hingga harus menghadapi tantangan dan drama setiap harinya? Atau nyantai saja memberi anak kebebasan untuk memilih tidur siang atau tidak, tetapi dengan pengawasan?

Apa pun pilihan Anda, masing-masing ada konsekuensinya. Membiarkan anak tidak tidur siang tentu membuat Anda lebih  nyantai, ringan menghadapi hari, dan relatif tidak ada tekanan. Namun, kalau Anda memilih mengharuskan anak tidur siang, sebaiknya pikirkan dahulu cara yang asyik agar anak menurut dan Anda tidak jadi uring-uringan.

Apa manfaat tidur siang? Ini, nih, yang harus diketahui dan dipahami dengan baik oleh setiap orang tua. Semua situs sepakat bahwa tidur siang sangat baik dilakukan setiap orang, baik dewasa maupun anak-anak. Ada beberapa manfaat tidur siang, di antaranya adalah:

1. Meningkatkan Kewaspadaan

Setelah lelah beraktivitas, biasanya anak akan mengantuk dan sulit konsentrasi. Tidur sejenak di siang hari dapat mengembalikan energi, sekaligus meningkatkan kewaspadaan. Sebuah studi dari NASA (Natuobal Aeronautics and Space Administration) menunjukkan bahwa pilot yang tidur siang selama 40 menit menjadi jauh lebih waspada dibanding yang tidak tidur siang. Bila anak Anda mau tidur siang, sore haru tentu tubuhnya lebih fit dan lebih siap melanjutkan hari.

2. Meningkatkan Daya Ingat

Tubuh yang segar setelah tidur siang terbukti lebih mampu diajak berpikir lebih keras dan mengingat sesuatu. Konon, Cina telah memberlakukan jam tidur siang di sekolah, tujuannya selain agar memiliki pola tidur sehat, juga agar meningkatkan daya ingat para siswanya.

3.  Memperbaiki Mood dan Relaksasi

Situs Alodokter.com mengungkapkan bahwa tidur siang sangat baik bagi anak karena bisa memperbaiki mood, sekaligus relaksasi. Anak yang bad mood tentu uring-uringan tidak jelas dan mudah tantrum karena fisik dam psikisnya lelah. Istirahat sejenak membantu anak melakukan relaksasi untuk mengurangi ketegangan.

Berbagai cara orang tua mengupayakan agar anak disiplin tidur siang. Mulai menghentikan paksa kegiatan bermain anak, mematikan lampu, memberi hadiah bila mau tidur siang, atau cara lain. Semua bertujuan untuk membuat anak tidak melewatkan manfaat tidur siang. Akan tetapi, anak-anak tidak jarang menolak. Mereka  selalu sibuk dengan dunia mereka yang seperti tidak ada lelahnya.

Memaksa anak tidak selalu baik, lo. Ada baiknya kita berdamai dengan keadaan dan menurunkan sedikit saja standar disiplin versi kita. Hal ini agar sebagai orang tua, kita tidak sering uring-uringan menghadapi anak yang kadang tidak sesuai dengan kemauan kita.

Bila anak tetap tidak mau tidur siang, apakah yang sebaiknya kita lakukan?

1. Pastikan Anak Menggantinya Saat Tidur Malam

Sumber foto: Unsplash.com


Kalau total jam tidur dalam sehari sudah 7 sampai 8 jam, sudah cukup memenuhi kebutuhan tidurnya. Tidak perlu memaksanya tidur siang bila anak tidak mau.Aktivitas beragam sepanjang hari yang membuat anak lelah menjadikannya tidak mengantuk. Durasi tidur yang terlalu lama juga bisa mengakibatkan sakit kepala, sakit punggung, dan depresi.

2. Pastikan Cukup Makan dan Minumnya


Sumber foto: Pinterest.com

Anak-anak yang aktif bergerak harus diimbangi dengan asupan nutrisi yang baik untuk menjaga agar tubuhnya tetap fit, meskipun tidak tidur siang.


3. Tambahkan Asupan Vitamin dan Mineral


Sumber foto: 123rf.com

Jangan lupa berikan anak tambahan vitamin, terutama vitamin C agar tidak mudah sakit karena kelelehan. Rutin minum madu dan habatussauda juga baik bagi pertumbuhannya sehingga lebih optimal.

4. Pastikan Aktivitasnya Positif


Sumber foto: Unsplash.com

Orang tua tetap harus mengawasi setiap aktivitas anak. Tidak masalah melewatkan waktu sepanjang siang asal yang dilakukannya bermanfaat, sekalipun dikemas dalam bentuk permainan. Sekali-sekali ada baiknya orang tua mendampingi anak saat sibuk bermain.

Setelah membaca tulisan di atas, Anda memilih yang mana? Tetap memaksa anak tidur siang atau membiarkannya tidak tidur asal memperhatikan keempat hal di atas?

Yang ideal tentu mengajak anak tidur siang dengan cara yang halus dan damai. Bisa jadi tidak langsung berhasil. Namun, bila diupayakan terus menerus Insya Allah akan berhasil. Pada usia SD, saat anak mungkin bersekolah full day, tentu anjuran tidur siang tidak bisa dijakankan. Pastikan anak Anda memiliki fisik yang kuat dan tidak menjalankannya dengan terpaksa.

Punya cerita seru tentang cara mengajak anak tidur siang? Atau memilih tidak memaksa anak? Silakan ceritakan pengalaman Anda di kolom komentar. Saling berbagi pengalaman, yuk .... Semoga dengan saling berbagi pengalaman bisa menambah wawasan kita. 




Review Buku: 365 Hariku Bersama Ananda. Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism

Rabu, 08 April 2020



Menanti kehadiran buah hati adalah hal menakjubkan dalam perjalanan hidup hampir setiap pasangan suami istri. Apakah Anda juga demikian? Kalau ya, Anda tidak sendiri. Jutaan pasangan menikah menanti buah hati dengan debar tak biasa. Melangitkan doa dengan hati yang dilingkupi kepasrahan. Sungguh suatu karunia yang besar saat Allah akhirnya menitipkan amanah berupa kelahiran buah hati.

Hal menakjubkan berikutnya adalah menemani tumbuh kembang anak. Setiap jengkal, setiap inci peningkatan kemampuan anak adalah kebahagiaan. Terlebih lagi, bila pasangan suami istri memahami konsep syukur dan mengaplikasikannya secara tepat dalam kehidupan berumah tangga. Mereka tidak mudah kecewa bila mendapati anak terlahir "berbeda." Tidak buru-buru menangis saat melihat anak memiliki "kekurangan," tetapi justru membuat hari-hari orang tuanya lebih berwarna, lebih semangat meningkatkan kemampuan anak, dan lebih mendekatkan diri kepada Allah.

Buku berwarna ceria yang ditulis oleh Sitatur Rohmah ini bisa menjadi salah satu bekal para orang tua menjalani hari-hari dengan anak yang "berbeda." Bagaimana caranya? Bukan dengan membanding-bandingkan dengan teman sebaya atau saudaranya, bukan dengan membuatnya merasa "tersisih," tetapi justru membuatnya merasa diterima dan diakui keberadaannya seperti halnya anak-anak yang lain.

Penulis asal Solo ini mengupas tuntas tentang aktivitasnya membersamai sang buah hati yang mengalami Selective Mutism, yaitu suatu gangguan kecemasan yang membuat anak fobia bicara atau memilih mode "mute" (diam) di lingkungan yang membuatnya tidak nyaman. Sebuah gangguan tumbuh kembang yang jika diabaikan akan berdampak buruk di masa depan. Lantaran kemampuan berinteraksi dan bersosialisasi merupakan salah satu bentuk kemampuan penting di masa tumbuh kembang anak-anak maka segera mengatasinya adalah langkah tepat dan bijak.

Blurb | 365 Hariku Bersama Ananda

Apakah buah hati Anda mengalami kondisi cenderung pendiam, pemalu atau sulit berkomunikasi jika berada di luar rumah dan sebaliknya menjadi cerewet atau terbuka ketika berada di rumah atau lingkungan yang sudah dikenalnya?

Jika kondisi tersebut berjalan dalam waktu lama, tak ada salahnya jika kita mewaspadai bahwa mereka mengalami gangguan selective mutism. Apa itu selective mutism? Sejauh mana gangguan tersebut berbahaya dan memengaruhi tumbuh kembang anak?

Menyimak kisah dalam buku ini akan membawa kita belajar dan memahami bagaimana menghadapi anak dengan gangguan selective mutism. Buku ini memaparkan perjuangan seorang ibu membersamai buah hati dengan selective mutism melalui pola asuh, pendekatan dan pendampingan yang tepat secara mandiri.

Dengan mencari rujukan, menelaah, mengkaji, memodifikasi serta menerapkan pola asuh dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi dan karakter si anak, dalam kurun 365 hari, anak mengalami perubahan yang signifikan ke arah positif.

Data Buku: 365 Hariku Bersama Ananda

Judul: 365 Hariku Bersama Ananda, Terapi Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism

Penulis : Sitatur Rohmah

Editor : A. Mellyora

Desain Sampul: Wendy TAJ

Ilustrator: Bayu Aryo D

Penata Letak isi: Tofa

Proofreader: Cahyadi H. Prabowo

ISBN : 978-623-7506-10-2

xiv, 146 hlm, 21 cm

Cetakan 1- Solo, Desember 2019
Penerbit: Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai

Kategori: Parenting


Harga: Rp 50.000,-

Tentang Penulis

Sitatur Rohmah, seorang ibu rumah tangga penuh waktu dengan dua putri dan dua putra. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret tersebut lebih memilih bekerja di dunia radio. Tak kurang dari 15  tahun ia meniti karir di dunia kepenyiaran, mulai sebagai penyiar, (broadcaster), reporter, programmer siaran, hingga terakhir manager siaran, sebelum akhirnya resign dan fokus mengurus keluarga.

Dunia literasi mulai dilirik sekitar bulan Juli 2018 saat anak bungsunya mulai masuk ke bangku sekolah dasar. Dengan niat memanfaatkan waktu untuk sesuatu yang lebih bermanfaat, ia mulai mengikuti kelas kepenulisan secara online. Pilihan jatuh pada tulisan nonfiksi dengan kekhususan menulis artikel bertema parenting dan lifestyle. Tulisannya dalam bentuk artikel sudah banyak dimuat, baik di media online maupun media cetak.

Karya literasinya berupa buku antologi bersama anggota komunitas penulis, antara lain Dawai Kata Hati (Kumpulan Prosa Liris)-JA-Publishing, 2018, Rihlah to Jannah (Kumpulan Cerita Inspiratif), Pejuang Literasi-2019, Bukan Kartini Terakhir (Kumpulan Cerita Inspiratif tema Kartini Era Milenial)-Dandelion Publisher, dan beberapa buku antologi yang masih dalam proses cetak.

Salah satu prestasi yang ditorehnya di dunia literasi adalah memenangi Lomba Menulis Artikel yang diselenggarakan oleh Koperasi Pondok Pesantren Daarut Tauhid, pada bulan Mei 2019 sebagai juara 1.

Review Buku:  365 Hariku Bersama Ananda. Terapi  Mandiri pada Anak dengan Gangguan Selective Mutism

Buku bernuansa pink yang nyaman dibaca ini tebalnya 146 halaman.  Sebagai buku parenting yang mengajak pembaca menerima sepenuhnya kondisi anak dengan gangguan selective mutism, penulis sukses mengulas secara rinci bagaimana sebaiknya orang tua mengambil langkah bijak.

Disusun rapi dalam tiga bab, yaitu
Bab 1: Menyadari dan Menerima 
Bab 2: Membersamai dan Melompat Bersama
Bab 3: Melangkah Optimis dengan Anak Selective Mutism

Pada bab 1, penulis secara rinci membuat pembaca paham dengan istilah selective mutism, salah satunya dengan menandaskan bahwa selective mutism bukanlah gangguan komunikasi. Selain itu, gangguan itu tidak muncul bersamaan dengan gangguan perkembangan, skizofrenia, atau gangguan psikosis yang lain. (hal.5)

Kebiasaan masa kecil, terutama masa balita akan sangat berpengaruh pada kebiasaan saat dewasa kelak. Itulah sebabnya, jika ada kebiasaan yang kurang pas, harus diperbaiki atau diubah supaya anak menemukan pola yang tepat. (hal. 6)

Lebih lanjut penulis menjelaskan perlunya keteraturan jadwal dalam keseharian anak, mulai tidur, bermain, berinteraksi dengan keluarga, hingga tidur lagi. Bila anak memiliki pola yang tepat dan kebiasaan baik yang diterapkan orang tua di rumah, kemungkinan anak mengalami selective mutism bisa dicegah.

Namun, bila hal itu tidak dilakukan orang tua, dan anak telanjur mengalami kesulitan berkomunikasi jika berada di luar rumah, tetapi menjadi cerewet ketika di dalam rumah atau di lingkungan yang dikenalnya, orang tua perlu melakukan upaya serius agar kondisi itu tidak berlanjut.

Pada bab 2, penulis menegaskan bahwa secara umum, yang dibutuhkan anak dengan selective mutism adalah penerimaan terhadap dirinya secara utuh, termasuk kekurangannya. (hal. 22).

Penulis menceritakan beberapa situasi yang membuat anak sedih, bahagia, takut, marah, bermacam rasa lain dan korelasinya dengan rasa percaya diri anak. Hingga akhirnya dapat ditunjukkan bahwa rasa percaya diri menjadi modal utama untuk menghalau ketakutan berbicara (hal. 22).

Berbagai langkah membersamai anak ditunjukkan dengan manis oleh penulis. Yang terpenting adalah menghindari lima hal dalam menghadapi anak dengan selective mutism dan kapan membutuhkan bantuan tenaga profesional.

Pada bab 3 atau bab terakhir, yaitu melangkah optimis dengan anak selective mutism. Penulis kembali menegaskan mengajak pembaca untuk mengakui bahwa setiap anak adalah istimewa. Tiap anak dikaruniai kelebihan dan kekurangan yang masing-masing tentu tidak sama. Itulah sebabnya, mereka harus diterima apa adanya. Bila menemukan kekurangan, bukannya panik, tetapi harus cepat dan tanggap, serta mengambil langkah cepat untuk memperbaiki.

Anak dengan selective mutism memerlukan penanganan khusus, perlakuan khusus, dan teknis khusus pula (hal. 120). Orang tua sangat perlu menggali sebanyak-banyaknya informasi mengenai gangguan yang satu ini agar melangkah cepat untuk memperbaiki.


Baca juga:

4 Hal yang Membuat Anak Unik dan Berbeda

Apakah buku 365 Hariku Bersama Ananda ini layak dibaca?

Tentu.

Buku dengan soft cover ini sangat layak dibaca oleh orang tua, guru, maupun pemerhati masalah parenting. Tulisan demi tulisan dalam tiap bab adalah based on  true  story. Mengupas langkah-langkah menemukan kekurangan dan memperbaikinya sebelum semuanya terlambat. Quote-quote pembangun jiwa yang bertebaran dalam buku ini begitu inspiratif dan membuat pembaca makin memahami pentingnya mengamati anak, menemukan kekurangan dan kelebihannya, serta  bersegera merancang penanganan terbaik.

Pengalaman orang tua lain,  paparan dan penjelasan dokter, dan deretan data dari sumber terpercaya membuat buku ini sarat info bergizi yang sayang bila dilewatkan.

Kekurangan

Tak ada gading yang tak retak. Hampir tidak ada buku yang sempurna, demikian juga buku ini. Saya tidak mendapati penulis menunjukkan periode waktu dalam menangani ananda yang diketahui mengalami gangguan.

Dalam benak saya saat membaca judul buku ini, penulis memaparkan upaya-upaya terapi mandiri dengan menunjukkan langkah konkret dari waktu ke waktu selama 365 hari. Misalnya 100 hari pertama, hal yang dilakukan apa, 100 hari kedua langkah apa yang ditempuh, dan sisa hari menunjukkan upaya apa saja. Nyatanya, penulis tidak melakukan hal ini sehingga saya akhirnya menganggap kata "365 hari" itu hanya kiasan yang bermakna bahwa upaya yang dilakukan orang tua membersamai ananda dilakukan sepanjang waktu, sepanjang tahun, dan terus menerus tanpa kenal lelah.

Selain itu, saya juga tidak mendapati keterlibatan saudara, baik saudara kandung ataupun sepupu mengatasi gangguan ananda. Apakah hubungan dengan saudara berpengaruh pada proses penyembuhan? Hal ini tidak dijelaskan. Saya mengibaratkan dalam menghadapi anak saya sendiri yang mengalami speech delay dan kerusakan syaraf motorik halus. Keterlibatan saudara kandung berpengaruh sangat besar pada upaya terapi. Penerimaan dan dukungan saudara kandung menambah semangat belajar anak saya. Tidak ada olok-olok, perlakuan sama, kesempatan dan kepercayaan yang sama membuatnya merasa lebih berarti dan tidak minder karena "keterbatasannya."

Simpel, tidak bertele-tele, dan mudah dipahami adalah kesan yang didapat setelah menyelami makna lembar demi lembar dalam buku ini. Sajian data yang akurat membuat kalimat demi kalimat dalam buku ini menjadi semacam pelecut semangat bagi para orang tua agar lebih intens memperhatikan tumbuh kembang buah hati. Bahwa kebutuhan mereka tidak cukup sekadar terpenuhi sandang, pangan, dan papan semata, tetapi juga perhatian tulus, penerimaan dan kepercayaan, serta dorongan untuk tidak putua asa menjalani hari-hari bagaimana pun kondisinya.

Penasaran bagaimana langkah detail penulis melakukan terapi mandiri kepada buah hatinya? Jangan ragu mendekap buku ini. Pelajaran sederhana dari kisah keseharian yang dikemas manis dalam buku ini memiliki makna yang tidak sederhana. Anda akan dibuat makin bersyukur atas kehadiran buah hati dan tidak lagi merasa berkecil hati bila menemukan "kekurangan."

Anda bisa segera mendapatkan buku ini di toko-toko buku ternama di kota Anda. Bisa pula menghubungi langsung di nomor WA Penulis: 085105016441











5 Tips Mengobati Rasa Putus Asa pada Anak

Kamis, 03 Oktober 2019



Anak-anak sering memiliki beragam keinginan. Bila tidak terwujud, biasanya akan menunjukkan reaksi negatif, seperti ngambek atau marah. Orang tua harus selektif menuruti kemauan anak karena memang tidak semua keinginannya harus dituruti. Sangat bijak bila sejak dini anak dibuat mengerti mengapa tidak semua keinginannya dapat terwujud.

Tercapainya semua harapan dan cita-cita adalah impian semua orang, termasuk anak-anak. Bila telah berusaha dan keinginan belum terwujud, sebagian anak-anak tidak dapat terhindar dari rasa kecewa dan putus asa.

Putus asa adalah hilang harapan. Juga menggambarkan sebuah ketidakberdayaan untuk memperbaiki yang telah sirna. Saat kegagalan tidak disikapi dengan baik dan putus asa menyerang maka anak bisa stres dan akan  mengantarkannya pada kesedihan tak berkesudahan. Orang tua harus tanggap bila anak terlihat putus asa  dan tidak semangat lagi mengupayakan apa yang diinginkannya.

Bagaimana tips membantu anak mengobati rasa putus asanya?

1. Ikhlas Atas Semua Ketetapan Allah

Semua yang terjadi telah sesuai skenario Allah. Dialah sebaik-baik pengatur dan pelindung kita. Mengambil hikmah atas setiap kejadian adalah langkah tepat agar rasa putus asa dapat terobati. Bukankah percuma saja tidak ikhlas, toh semua sudah terjadi. Meskipun tidak mudah memahamkan hal ini kepada anak, sedini mungkin harus berlatih menjaga keikhlasan agar hidupnya tenang.

2. Mencari Sebab Mengapa Bisa Gagal

Kadang kita tidak mengerti mengapa bisa gagal, apalagi seorang anak. Meskipun memang kegagalan adalah takdir, bila kita berusaha mencari sebabnya maka kita akan lebih mudah mengambil hikmah dari setiap kegagalan. Mencari sebab kegagalan tentu tidak bermaksud untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk mengevaluasi agar langkah yang keliru di masa lalu tidak terulang kembali. Anak yang terbiasa mengambil hikmah dan pelajaran atas semua kegagalan akan lebih ringan dalam melangkah dan mengambil sikap.

3. Mengatur Kembali Langkah

Kecewa dan putus asa memang manusiawi. Keduanya adalah hal lumrah yang kita alami saat terpuruk. Akan tetapi, bila kita ingin meraih cita-cita, maka langkah baru harus ditempuh, rencana baru harus disusun, strategi baru harus diatur, dan tekad baru harus dikuatkan. Hal inilah yang pelan-pelan harus diajarkan kepada anak. Berpegang pada pengalaman kegagalan yang lalu, ajak anak mengatur rencana lagi.

4. Tidak Mengeluh

Mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan. Setiap kegagalan yang disikapi dengan mengeluh hanya akan memunculkan masalah baru. Ajak anak belajar menghadapi semua yang terjadi dengan lapang dada. Merelakan semua yang hilang meski tak kembali justru akan memunculkan semangat baru.

5. Berdoa dan Memohon Petunjuk

Yang paling utama dilakukan ketika putus asa adalah tidak lupa berdoa kepada Allah Sang Pembuka Jalan. Memohonlah kepada-Nya agar jalan petunjuk terhampar di depan mata. Apalah gunanya ikhtiar tanpa doa. Bagai sayur tanpa garam: hambar dan tidak menggugah selera. Anak yang merasa putus asa dan tidak semangat lagi harus dikuatkan mentalnya dengan banyak berdoa.

Mengobati rasa putus asa bukan hal mudah, tetapi akan jadi mudah bila ada kesungguhan menata masa depan dan memperbaiki segala kesalahan. Anak-anak yang merasa putus asa harus mendapatkan pendampingan untuk menguatkan hati dan menambah semangatnya. Buatlah dirinya  yakin, masih terbentang jalan dan harapan untuk menjadi lebih baik pada masa yang akan datang. Semangat saja terus meningkatkan kualitas diri maka putus asa akan terkikis bersama waktu. Yakinkan anak, selalu ada jalan bagi mereka yang gigih berusaha.

x

5 Cara Membantu Anak Mengatasi Rasa Minder



Membuat anak memiliki rasa percaya diri tidak selalu mudah. Meskipun sudah diupayakan, rasa minder itu tidak selalu mudah dihilangkan. Orang tua kadang sudah melakukan banyak cara, seperti menyertakan dalam berbagai lomba, mengikuti club tertentu, hingga berani membayar mahal mengikuti suatu komunitas.

Mari kita mencoba menggali, kira-kira apa penyebab rasa minder itu datang dan kemudian merajai seluruh isi kepala anak. Ternyata, hal terbesar penyebab minder adalah kurangnya rasa syukur atas segala pemberian Allah. Kita kadang lalai mengajarkan bagaimana cara bersyukur dan terlalu fokus melihat kelebihan orang lain, hingga lupa bahwa anak  pun punya kelebihan. Bukankah setiap kekurangan selalu bersanding dengan kelebihan? Tidak mungkin seorang anak mempunyai kekurangan saja atau kelebihan saja.

Selain itu konsep diri negatif juga menjadi penyebab munculnya rasa minder. Merasa dirinya bukan siapa-siapa, tidak memiliki prestasi dan tidak punya peran di lingkungannya adalah beberapa hal yang tidak sadar sering dirasakan anak. Rasa ini sangat mengganggu anak dalam pergaulan, terlebih bila yang menjadi sumber minder adalah kondisi fisik anak dan kondisi ekonomi orang tua. Orang tua harus meyakinkan anak bahwa setiap anak bisa berprestasi, bagaimanapun kondisinya.

Lantas, bagaimana mengatasinya?

1. Ikhlas

Menghadirkan rasa ikhas dalam hati anak untuk mengusir rasa minder memang butuh perjuangan dan butuh proses. Hal ini karena orang tua belum tentu menghadirkan rasa ini di hati. Menyadari bahwa semua yang terjadi adalah takdir harus menjadi yang utama diperhatikan untuk dipahamkan kepada anak sejak sejak dini.

2. Menghargai Pencapaian Diri

Syukuri sekecil apa pun prestasi yang telah diraih anak. Bukankah langkah besar dimulai dari langkah kecil? Pencapaian besar dimulai dari pencapaian-pencapaian kecil yang konsisten diupayakan. Buatlah anak mengerti bahwa orang tua merasa bangga atas pencapaiannya. Tunjukkan pula bahwa orang tua menghargai jerih payahnya, walaupun mungkin memang tidak seberapa.

3. Meningkatkan Kualitas Diri

Ajakan anak memuulai dengan menerima kekurangan diri. Bantu anak menghargai dirinya sendiri dengan terus belajar dan belajar. Yakinkan dirinya bahwa dia layak menjadi lebih baik. Bantu anak tingkatkan pengetahuan bagaimanapun kondisinya. Dengan cara itu, wawasan kita akan terus bertambah dan sedikit demi sedikit akan menumbuhkan rasa percaya diri.

4. Berkumpul Dengan Teman-teman yang Selalu Saling Menyemangati

Berkumpul dengan teman-temannya yang setia dengan kritik membangunnya dapat menjadi dukungan berarti bagi anak. Sebaliknya, teman yang kata-katanya destruktif dan menjatuhkan mental akan menghambat langkah anak dan makin membuat dirinya merasa tak berarti.

5. Tidak Perlu Menjadi Anak yang Perfeksionis

Boleh saja punya cita-cita, tetapi bila terlalu tinggi tentu akan menyiksa diri. Akan lebih bijaksana bila anak dibantu menyederhanakan keinginan dan cita-citanya, tetapi semangat yang harus tetap tinggi. Tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri bila belum mampu tergapai semua yang ingin diraih. Juga tidak perlu terlalu kecewa bila belum sampai pada prestasi tertentu. Tidak atau belum mampu meraih cita-cita bukan ukuran kesuksesan seseorang.

Demikian beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk mengatasi rasa minder pada anak.

Tidak perlu terburu-buru ingin menikmati hasil karena butuh proses yang panjang, butuh konsistensi, dan butuh kemauan keras, baik dari anak maupun orang tua untuk melepaskan diri dari jeratan rasa minder.

5 Tips Antigalau Pilih Ekskul untuk Anak.

Selasa, 01 Oktober 2019


Ekstrakurikuler di sekolah sebagai wadah pengembangan bakat dan sarana belajar mengatur waktu adalah sarana refreshing yang mendidik. Anak-anak melakukan berbagai kegiatan di luar mata pelajaran sekolah yang dapat membuat mereka menggali banyak hal dan ilmu baru.

Ekstra kurikuler di sekolah anak kami: Hanum Aulia Rusydaa kelas 5 dan Muhammad Hanif Ihsan Rosyadi kelas 1, SD Muhammadiyah 12 Surabaya, Jawa Timur, terbagi menjadi tiga jenis, yaitu ekstra wajib, ekstra pilihan, dan ekstra mandiri.

1. Ekstra Wajib. 

Ekstra wajib di sekolah mereka adalah hizbul wathan (semacam pramukanya Muhamnadiyah) dan bela diri tapak suci. Mulai kelas 3, anak-anak baru mulai ada kegiatan ini.

2. Ekstra Pilihan

Ekstra pilihan dilaksanakan pada hari Senin atau Selasa. Pilihannya pun beragam, antara lain dokter cilik, tahfidz, da'i cilik, desain grafis, painting, dan memasak. 

3. Ekstra Mandiri

Ekstra mandiri dilaksanakan pada hari Sabtu. Wali murid yang anaknya bersedia mengikuti ekstra mandiri harus membayar sendiri dan tidak dibiayai  sekolah. Pilihannya adalah Tahfidz, Bahasa Inggris, Futsal, Panahan, Robotika, dan Cinematografi.

Khusus ekstra mandiri, para siswa diberi kebebasan. Bila ingin memanfaatkan fasilitas sekolah dan memanfaatkan waktu hari Sabtu, salah satu ekstra mandiri bisa dipilih. Namun, bila menginginkan kebebasan bermain pada hari Sabtu, tidak ikut pun tidak apa-apa. Hanum sejak kelas lima mulai tidak mau menghabiskan hari  Sabtunya untuk ekstra mandiri. Dia ingin menikmati hari setelah setiap hari sekolah full day. Sayangnya, Hanif jadi ikut-ikutan tidak mau ikut, padahal baru kelas satu SD
Berdasarkan pengalaman Hanum sampai memasuki kelas lima ini, kami lebih punya bekal untuk Hanif dalam memilih ekstrakurikuler. Harus ada tips khusus agar tidak bingung saat memilih. Apa saja tips itu?

1. Sesuaikan dengan Bakat dan Minat



Mengapa harus menyesuaikan bakat dan minat? Terkadang, anak memiliki bakat, tetapi tidak minat mengikuti. Atau memiliki minat yang tinggi, tetapi tidak bakat. Yang ideal tentu yang sesuai dengan bakat dan minat. Namun, karena sering kali anak belajar sesuai mood-nya maka penting sekali memperhatikan minatnya. Tidak sedikit anak sukses karena minatnya, meskipun tidak bakat. Dia akan belajar dan terus berlatih tanpa paksaan karena pilihan sesuai dengan minatnya.

2. Pastikan Bisa Menambah Pengalaman Baru



Ekstrakurikuler harus bisa menambah pengalaman baru. Ilmu dan pengalaman di tempat ekstrakurikuler belum tentu bisa dengan mudah diperoleh di kelas. Oleh karena itu, mencari sebanyak-banyaknya pengalaman sangat dianjurkan bagi anak.

3. Jangan Ikut-ikutan Teman



Penting diperhatikan, anak-anak tentu senang berkegiatan bersama teman-temannya. Namun, jangan sampai memilih karena ikut-ikutan. Kesenangan, selera, minat, dan bakat setiap anak tidak selalu sama, meskipun sering bermain bersama. Orang tua perlu memberi pengertian kepada anak agar memilih sesuai  kemampuan dan keinginannya sendiri.

4. Tidak Membuat Prestasi Sekolah Menurun



Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler jangan sampai membuat anak kelelahan hingga tidak sempat belajar atau berprestasi di sekolah. Tentu hal ini sangat tidak dianjurkan. Anak-anak harus mengutamakan prestasi akademik.

5. Amati Perkembangannya




Anak-anak tidak selalu memiliki keinginan yang menetap. Amati dulu perkembangannya dan beri waktu satu bulan untuk menjalani. Bila anak suka dan giat belajar, lanjutkan. Bila anak terlihat semangatnya menurun, lebih baik minta izin kepada guru untuk ganti yang baru. 

Nah, tidak sulit, bukan? Berdasarkan pengalaman Hanum, mengikuti ekstra yang tidak sesuai minatnya hanya membuatnya malas dan lebih sensitif. 

Lebih baik membuka pintu dialog dan menggali apa kemauan anak. Orang tua mengarahkan, tetapi harus melihat kondisi anak.

5 Cara Memunculkan Rasa Ingin Tahu Anak

Senin, 30 September 2019


Dunia anak adalah dunia bermain. Dalam segala situsi dan di mana pun berada, yang ada dalam pikiran mereka adalah bermain dan bermain. Sebagian kita mungkin menganggap mereka membuang waktu. Namun, sejatinyabbermain adalah cara mereka belajar dan merengkuh banyak ilmu.

Sebagai orang tua, seharusnya kita tidak buru-buru memberikan stempel buruk pada anak. Karena dunia anak adalah dunia penuh kegembiraan dan canda tawa, melalui bermain pula banyak ilmu disuguhkan kepada anak. Sekolah-sekolah TK dan kelompok bermain menggunakan metode bermain dalam proses belajar-mengajar sehingga anak menjalalani hari-hari di sekolah dengan riang gembira. Bahkan, di tahap awal SD sekalipun, belajar masih dilakukan dengan bermain.

Anak- anak sangat suka menggali ilmu baru sambil bermain. Bermain dapat membuat mereka ingin tahu akan banyak hal. Kita sebagai  orang tua harus jeli menjadi media bertanya bagi anak agar mereka tidak bertanya kepada orang atau media yang salah. 

Bagaimana memunculkan rasa ingin tahu anak?

1. Mengenalkan Anak pada Lingkungan Alam dan Sekitarnya




Sejak dini, anak harus dikenalkan dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Apa saja yang ada di sekelilingnya adalah sarana belajar yang menyenangkan. Sering mengajak anak menjawab teka-teki, bertanya yang memuncullan keraguan, atau berdiskusi tentang suatu hal adalah cara mudah membuat anak berpikir. Dengan berpikir, anak akhirnya akan banyak bertanya.

2. Selalu Siap Menjadi Tempat Bertanya



Rasa ingin tahu membuat anak bertambah pengetahuannya. Semakin bertanya, akan semakin menunjukkan minatnya pada ilmu baru. Sebagai orang tua kita harus selalu siap menjadi tempat bertanya yang menyenangkan bagi anak. Bila tidak menyenangkan bagi anak, maka anak akan bertanya kepada yang lain yang belum tentu terjamin kebenarannya.

3. Tidak Memberikan Respon Negatif Saat Anak Bertanya


Anak-anak selalu berpikir sebab akibat. Karenanya, orang tua harus berusaha memberikan jawaban yang akurat, agar kemampuan berpikir anak dapat terbangun sesuai tahapan usia. Ketika bertanya itulah sebetulnya anak memasukkan ilmu pengetahuan di otaknya. Oleh karena itu, orang tua hendaknya memberikan hanya respon positif saja pada anak agar anak tidak kecewa dan akhirnya malas bertanya lagi.

4. Memberikan Kesempatan Berekspresi Seluas-luasnya


Kesempatan berekspresi bisa dengan bermain, menekuni hobi, atau kegiatan apa saja yang menyenangkan anak. Dari sanalah mereka menemukan banyak hal baru yang memunculkan rasa ingin tahu mereka. Biarkan anak bereksperimen dan kenalkan dengan banyak hal tentang kehidupan dengan cara sederhana.

5. Biasakan Memberi Tantangan kepada Anak 





Terkadang, seseorang perlu menaklukkan tantangan agar bisa memotivasi diri. Tantanganlah yang bisa membuat seorang anak duduk berlama-lama atau berlelah-lelah. Tentu karena ingin meraih sesuatu.

Demikian sekelumit yang bisa dilakukan orang tua untuk memunculkan rasa ingin tahu anak. Kelima hal di atas bukan hal yang sulit dipraktekkan. Bila serius mengupayakan, maka anak-anak kita akan terbiasa menggali banyak hal baru dalam keseharian, sekaligus mengasah ketajaman berpikir mereka.

5 Tips Agar Anak Bersedia Sekolah di Pondok Pesantren

Minggu, 29 September 2019
Foto: Google


Punya anak patuh tentu menyenangkan. Semua yang diperintahkan orang tua dilaksanakan dengan senang hati. Tidak ada penolakan dan bantahan, juga sikap tak menyenangkan lain.

Bagaimana saat anak diperintahkan mondok? Tidak semua anak dapat memahami besarnya kekhawatiran orang tua akan banyaknya pengaruh buruk yang bisa merusak kepribadian anak. Sebagian besar anak justru menginginkan kebebasan.

Membekali anak dengan ilmu agama adalah kewajiban orang tua. Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya hidup bahagia dunia akhirat. Kebahagiaan tentunya tidak selalu berupa materi. Segala bentuk kenyamanan dan kemudahan bisa diraih dengan materi. Namun kekuatan mental dan kenyamanan batin tidaklah selalu dengan materi.

Orang tua yang bijak hendaknya mengutamakan lingkungan yang baik bagi perkembangan anak-anaknya. Pondok pesantren adalah pilihan tepat bagi anak terutama ABG untuk tempat menuntut ilmu. Pondok pesantren bagi anak tidak saja melatih kemandirian, melatih kedisplinan dan melatih kesabaran. Tapi juga melatih ketahanan mental karena hidup terpisah dari orang tua.

Baca juga:

8 Tips Mudah Melatih Kemandirian Anak

Kita tidak sedang membahas pro kontra dan baik buruk sekolah di pondok pesantren. Bisa jadi setiap orang tua berbeda pendapat tentang hal ini. Tapi bila kedua orang tua bertekad memilih jalan memasukkan anak di pondok pesantren, maka ada beberapa tips yang bisa diterapkan. Tips-tips berikut ini bertujuan agar ada kesamaan antara keinginan dan cits-cita orang tua dengan anak.

1. Mendo'akan Sejak dalam Kandungan

Foto: Google


Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya lahir sempurna fisik dan mentalnya. Do'a tanpa henti diiringi ikhtiar maksimal dari orang tua terutama ibu sangat berpengaruh bagi tumbuh kembang anak. Jangan pernah lelah menyisipkan do'a agar anak kelak menjadi anak yang patuh dan senantiasa berbakti kepada kedua orang tua.

2. Menghadirkan Suasana Religi Sejak Usia Dini


Foto: Google


Sejak anak dilahirkan harus ada upaya untuk menghadirkan suasana religi secara terus menerus. Setiap hal yang masuk melalui panca indranya harus sesuai dengan ajaran agama. Adalah tugas orang tua untuk membentengi anak sejak usia dini dari segala hal yang bertentangan dengan agama.

3. Selalu Menceritakan Hal-hal Positif tentang Kehidupan di Pondok Pesantren.

Foto: Google


Sejak bisa mendengarkan cerita, sebaiknya anak hanya mendengarkan hal-hal yang baik saja dalam segala hal. Ini bertujuan agar anak sedini mungkin memiliki filter mana yang baik dan buruk dalam segala hal. Demikian juga mengenai pondok pesantren. Ajaklah anak untuk mencari kebaikan dan keuntungan tinggal di pondok. Bagaimana mereka akan hidup dalam ketenangan tinggal di lingkungan orang-orang saleh salihah yang saling mendo'akan dan saling menguatkan.

4. Menjaga dan Mengawasi Pergaulan Anak


Foto: Google



Hidup di era digital sekarang ini memudahkan setiap orang mengakses beragam informasi. Demikian juga anak-anak. Mudah bagi mereka mendapatkan berbagai informasi dan bergaul di dunia maya. Sudah tidak diperdebatkan lagi bahaya sosmed bagi anak. Karenanya perlu pengawasan terus menerus kepada anak terkait pergaulannya, terutama pergaulannya di dunia nyata.Tentu harus dicari cara yang menyenangkan agar anak tidak merasa dikekang dan mudah diarahkan agar tidak meniru perilaku buruk teman-tenannya.

5. Mengajak Anak Berkunjung ke Pondok Pesantren dan Melihat dari Dekat Kehidupan di sana.


Foto: Google


Berdiskusi dengan anak terkait sekolah di pondok pesantren perlu dilakukan. Sesekali ajaklah anak melihat dari dekat kehidupan di pondok. Bila perlu bisa menyertakan anak mengikuti pesantren kilat, seperti pondok romadhon atau pesantren liburan. Ini penting untuk mengawali. Setidaknya anak melihat sendiri bagaimana para santri bisa bahagia meski jauh dari orang tua.

Memasukkan anak ke pondok pesantren tentu tidak selalu mudah.Orang tua, terutama ibu, sejatinya adalah faktor pendorong suksesnya anak belajar di pondok. Bila ada rasa berat berpisah dengan anak, tentu anak akan ikut merasa meski berpisah jarak.

Membersamai anak dengan do'a adalah jalan terbaik agar sukses sekolah di pondok pesantren. Tidak perlu takut anak jadi bodoh dan kuper karena tidak menggunakan Hp. Anak-anak mendapatkan penjagaan langsung dari Allah. Bukankah akan ada saat mereka libur dan bisa bergaul kembali dengan teman-teman mereka yang tidak sekolah di pesantren. Ada pula saat mereka bisa menggunakan Hp.

Bila tekad telah kuat dan ikhtiar telah maksimal maka hanya kepada Allahlah kita menyerahkan semuanya. Proses yang baik telah dilalui dan Allahlah yang menentukan hasilnya.

6 Trik Mudah agar Anak tidak Malas Belajar

Sabtu, 28 September 2019


Pernahkah mendengar anak menebar janji saat diajak belajar?

"Nanti, Bu."

"Iya, Bu, sebentar lagi."

"Sudah, Bu. Kok disuruh lagi, sih? Tadi sudah belajar."

"Malas, Yah, aku nggak mau belajar, capek."

Sebagian anak merasa belajar di rumah adalah aktivitas yang kurang menyenangkan. Selain karena sudah lelah belajar di sekolah, antara lain karena di rumah terlalu banyak hal yang lebih menarik daripada belajar, seperti bermain bersama teman, menonton TV, dan bermain game via Hp. Faktanya, memang anak-anak, terutama usia TK dan awal SD, menganggap belajar adalah sesuatu yang membosankan dan melelahkan.

Hal ini tentu mengkhawatirkan bila terus berlanjut sampai usia SMP apalagi SMA. Belajar adalah kebutuhan hidup. Apa jadinya bila seorang anak tidak suka belajar. Oleh karena itu, perlu trik khusus agar anak tidak menolak diajak belajar dan menyukai ilmu pengetahuan.

Bagaimana caranya? Yuk, simak trik ala saya berikut ini.

1. Ubah Cara Pandang tentang Belajar



Selama ini, anak memahami bahwa yang dimaksud belajar adalah duduk manis di depan meja sambil membaca atau menulis. Orang tua harus mengubah cara pandang anak agar tidak berpikir sempit tentang belajar. Bermain kartu angka dan huruf, bermain monopoli, menonton film motivasi, atau menggambar, juga disebut belajar. Jadi, belajar adalah semua aktivitas yang menambah pengalaman dan pengetahuan, serta membuatnya paham akan banyak hal. Tentu tidak terbatas hanya duduk diam saja sambil membaca dan menulis.

2. Ajak Anak Kunjungi Tempat Penting




Sesekali ajak anak mengunjungi tempat-tempat penting yang terdapat ilmu pengetahuan, seperti museum, kebun binatang, dan taman flora. Bila anak pergi bersama teman-teman dan gurunya di sekolah tentu lebih baik. Anak akan belajar mengeksplor banyak ilmu sambil rekreasi.

3. Dampingi Saat Anak Belajar





Duduklah di dekat anak saat mereka mulai mempelajari banyak hal. Dampingi dan siapkan diri untuk menjelaskan hal-hal yang tidak dimengerti. Tentu saja disesuaikan dengan kemampuan anak. Yang penting, anak belajar dengan riang dan tanpa paksaan.

4. Jangan Paksakan Durasi




Saat anak mulai duduk manis atau belajar apa saja dengan santai dan riang, tidak perlu memaksakan harus berapa lama. Pastikan dulu anak memiliki rutinitas belajar yang nyaman dan fokuskah pada konsistensi, bukan pada durasi.

5. Tidak Bandingkan Anak



Tidak perlu membandingkan anak dengan temannya, meskipun untuk tujuan memotivasi. Nikmati saja seberapa pun dan sejauh apa pun pencapaiannya. Latih terus menjaga semangatnya dan tidak lelah memotivasi untuk menggali hal-hal baru, baik dengan membaca, menulis, mewarnai, maupun bercerita.

6. Beri Teladan




Orang tua harus menjadi teladan terbaik bagi anak. Sesibuk apa pun sempatkan membaca buku, mendengarkan berita, atau melakukan apa saja yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan. Buat anak meyakini bahwa orang tuanya memberi contoh yang baik untuk perkembangan kemampuannya.

Bagaimana triknya? Mudah, bukan? Tidak sulit bila mau mencoba dan terus berusaha.

Jangan patah semangat bila anak belum mau mengisi harinya dengan belajar. Berikan sebanyak-banyaknya masukan tentang manfaat belajar dan apa akibatnya jika malas. Bila memungkinkan, berilah anak contoh nyata di sekitar tentang akibat malas belajar. Hal ini berguna untuk membuat anak lebih berhati-hati dan terdorong untuk semangat belajar.

Selamat mencoba.


6 Hal yang Harus Disiapkan Saat Anak Berangkat Berkemah

Jumat, 27 September 2019


Apakah Anda termasuk ibu yang galau saat anak berangkat kemah?
Apakah Anda tidak mengizinkan anak berangkat kemah karena terlalu khawatir?
Apakah Anda mempersiapkan dengan matang kelengkapan anak berangkat kemah?

Orang tua yang galau saat anak berangkat kemah sebenarnya wajar saja. Terlebih lagi, anak yang masih usia SD. Tentu muncul kekhawatiran di hati orang tua, terutama ibu, terkait keberangkatan anak.

Tentu saja, orang tua tidak bisa melarang keberangkatan anak bila kemah adalah program sekolah yang sudah dijadwalkan. Kepanikan berlebihan tentu tidak perlu karena para guru akan menjaga dengan baik selama jauh dari orang tua.

Demikian juga saat anak kami, Hanum Aulia Rusydaa, siswi kelas 5 SD Muhammadiyah 12 Surabaya saat berangkat kemah pada tanggal 24 sampai 26 September 2019. Antara cemas, galau, gelisah, bercampur dengan keinginan agar anak mandiri membuat kami akhirnya menguatkan hati melepas kepergian Hanum untuk kemah

Bertempat di Alas Pelangi Trawas Mojokerto, Hanum berangkat bersama lebih dari seratus teman dan beberapa guru mengendarai truk Angkatan Laut pada pagi hari, Selasa 24 September 2019.  Kerumunan wali murid sudah memenuhi halaman sekolah saat rombongan akan berangkat pada pukul 09.00. Para wali murid, kebanyakan ibu-ibu, membantu persiapan anak-anak mulai mengecek kelengkapan yang harus dibawa, membawakan aneka snack, dan memastikan semua barang sudah ditata dengan rapi.

Kehebohan terus berlanjut hingga saat anak berangkat mengendarai lima truk besar. Ada wajah biasa, ada wajah was-was, dan ada pula wajah gembira penuh canda tawa berbaur dengan riuhnya celoteh anak-anak yang terlihat bahagia berangkat kemah. Hanum, anak kami, ada di antara kerumunan anak-anak gembira itu.

Baca juga:

8 Tips Mudah Melatih Kemandirian Anak

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, mengapa sampai ada galau berlebihan di hati ibu? Bukankan kemah adalah kegiatan tahunan yang rutin diadakan sekolah? Sebenarnya lebih baik orang tua melakukan serangkaian persiapan. Apa saja persiapan anak kemah?

1. Beri Anak Motivasi 



Tidak usah memikirkan kondisi minim di lokasi, seperti udara yang mungkin terlalu dingin atau terlalu panas, alas tidur yang kurang nyaman, penerangan yang seadanya, dan situasi minim lainnya. Yakin saja bahwa para guru akan menjaga mereka. Berikan anak motivasi dengan deretan manfaat kemah agar tetap menjalani dengan semangat, meskipun dalam ketidaknyamanan.

2. Kuatkan Hati Ibu


Antri mengambil makanan.
Hanum paling kanan, kerudung pink


Tidak perlu khawatir berlebihan. Kuatkan hati ibu agar berimbas langsung pada kekuatan dan semangat anak. Bukankah anak harus disiapkan menjadi pribadi yang tangguh? Biarkan anak belajar kemandirian dan tetap kuat menghadapi segala kesulitan. Yakinkan anak, bahwa orang tua mendukung sepenuhnya.

3. Bawa Barang Seperlunya




Buatlah daftar barang bawaan anak selama kemah. Biasanya, pihak sekolah sudah memberi daftar barang yang harus dibawa, baik kelompok maupun pribadi. Pastikan yang dibawa adalah yang benar-benar dibutuhkan anak. Tidak sampai kekurangan, tetapi juga tidak sampai berlebihan.

4. Latih Anak agar Efisien



Latih anak agar efisien dengan barang-barang yang dibawanya. Melipat pakaian dengan cara digulung, membawa perlengkapan mandi dalam ukuran kecil, membawa baju yang tidak terlalu tebal, dan tas yang mudah dibawa.

5. Buat Daftar Kontak




Selain grup WA, sebaiknya wali murid memiliki daftar kontak para guru agar sewaktu-waktu bisa dihubungi. Namun, bila hanya ingin mengetahui situasi anak, tentu sudah dikabarkan di grup WA. Jadi, tidak perlu sebentar-sebentar bertanya karena tentu merepotkan para guru yang sedang bertugas.

6. Pastikan Anak Sehat Saat Berangkat



Inilah yang terpenting. Saat hendak berangkat kemah, pastikan anak tidak sedang sakit. Jangan berharap anak akan sembuh di lokasi kemah bila saat berangkat sudah sakit. Kegiatan yang padat dan memerlukan fisik prima mengharuskan anak sehat saat berangkat.

Demikian tujuh hal yang harus disiapkan saat anak berangkat kemah. Bila sudah disiapkan secara matang, sudah tidak perlu lagi ada galau dan khawatir. Biarkan anak menjadi tangguh dan lebih mandiri dengan berkemah.

7 Cara Mengatasi Anak Manja



Pernahkah melihat anak Anda sering tantrum, tidak mau melakukan segala sesuatu sendiri, dan maunya minta lebih tetapi tidak mau berbagi?

Hati-hati. Ketiga hal di atas adalah ciri-citi anak manja. Kadang, sebagai orang tua kita tidak menyadari bahwa kasih sayang kita kepada anak berlebihan hingga membuatnya menjadi manja. Tidak jarang, lupa mengajarkannya bersabar dan lebih peka.

Bagaimana cara orang tua menghadapi anak manja? 
Membiarkannya?
Terus menuruti keinginannya?

Orang tua mana yang anaknya tidak pernah rewel?

Tidak pernah merengek?
Atau tidak pernah merajuk?

Setiap anak tentu punya saat tidak tenang, tidak patuh, dan semaunya sendiri. Pada tahap usia tertentu, anak belum mampu mengelola keinginannya sehingga apa pun yang diinginkan selalu minta dipenuhi, bahkan ingin segera.


Sebagian orang tua kadang tidak konsisten, tidak disiplin, dan kadang terlalu mengalah dengan anak.

Mereka menganggap hal itu wajar saja atas nama cinta dan sayang kepada anak, padahal justru sikap itulah yang memicu anak menjadi manja.

Ketika tidak terpenuhi keinginannya, anak manja akan marah, memukul, menendang, atau melempar barang. Tidak jarang, tindakan buruk tanda protesnya itu melukai dirinya sendiri. Orang tua akan dihadapkan pada situasi sulit, antara mengabaikan atau memperhatikan. 


Akibat anak terlalu dimanja, bisa berdampak negatif sebagai berikut.

1. Tidak Mandiri

Anak yang dimanja cenderung merasa tidak perlu bersusah payah mengusahakan sesuatu. Hal ini karena mereka yakin bantuan orang tua akan segera datang sehingga menyebabkan dirinya tidak mandiri.

Baca juga

8 Tips Mudah Melatih Kemandirian Anak


2. Keras Kepala dan Pemarah

Akibat sering dimanja dan dituruti semua keinginannya, anak akan kecewa bila suatu saat tidak dituruti. Anak bisa jadi marah dan frustasi, serta menunjukkan sikap tidak menyenangkan terhadap orang tua.

3. Egois dan Pembangkang

Merasa selalu diutamakan, anak yang terlalu dimanja bisa menjadi egois dan cenderung melawan orang tua. Sikap pembangkang ini bisa terus menetap hingga dewasa bila terus dimanja.

4. Tidak Hormat

Perlakuan yang tidak tegas kadang bisa menjadikan anak yang dimanja tidak hormat kepada orang tua. Anak manja biasanya merasa dirinya penting dan utama sehingga membuatnya tidak hormat kepada orang tua bila tidak segera diberi pengertian.

Yang mengerikan adalah bila sikap manja itu terus berlanjut hingga remaja, bahkan dewasa. Betapa banyak hubungan pertemanan kandas dan hubungan suami istri juga berantakan akibat salah satu pihak memiliki sikap manja. Dia akan bertindak semaunya dan mementingkan diri sendiri. 

Menghadapi anak yang sudah telanjur manja memang tidak mudah. Namun, orang tua tetap harus mencari tahu caranya untuk mengatasi.

Bagaimana caranya?

1. Beri Penjelasan Sederhana

Sumber foto: Unsplash.com


Anak harus diberi penjelasan saat dia menangis atau marah karena keinginannya tidak terpenuhi. Penjelasan yang diberikan tentu harus sederhana agar anak mudah memahami dan tidak mengulangi lagi. Bila sedih dan marahnya tidak kunjung berakhir, berikan lagi penjelasan baru yang lebih mengena dan lebih sederhana.

2. Konsisten

Sumber foto: Unsplash.com

Bila aturan sudah dibuat, pastikan menerapkannya secara konsisten. Anak akan bingung bila orang tua tidak konsisten. Kadang dibolehkan, kadang tidak. Kadang begini, kadang begitu, mana yang benar jadi tidak jelas.

Baca juga

6 Cara Melatih Konsistensi pada Anak


3. Beri Pujian

Sumber foto: Unsplash.com

Saat anak telah berusaha mematuhi aturan orang tua, berikan pujian tulus. Tunjukkan kepada anak bahwa orang tua menghargai kemauannya berbuat baik seperti harapan orang tua. Pujian juga berguna untuk menambah rasa percaya diri dan keyakinannya akan dukungan orang tua untuknya.

4. Beri Hukuman

Sumber foto: Unsplash.com

Jangan segan memberi hukuman bila anak tidak sesuai dengan aturan yang dibuat orang tua. Tentu bukan hukuman yang memberatkan. Hanya hukuman sebagai tanda orang tua kecewa atas perilaku tidak baiknya. Biarkan anak merasakan kekecewaaan orang tua dengan caranya.

5. Beri Petunjuk Perbuatan Baik dan Buruk

Sumber foto: Unsplash.com

Terkadang, anak tidak berbuat baik karena belum melihat contoh langsung. Buatlah anak paham mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk dengan penjelasan sederhana yang mudah dipahami.

6. Bersikap Tegas, Tetapi Tidak Kasar

Sumber foto: Unsplash.com


Bersikap tegas penting untuk menunjukkan bahwa orang tua ingin perbaikan atas sikap dan perilaku buruk anak. Hindari bersikap dan berkata kasar, meskipun untuk tujuan yang baik. Jadikan anak merasakan bahwa ketegasan orang tua adalah bukti kasih sayangnya.

7. Menahan Diri

Sumber foto: Unsplash.com

Saat sedang emosi, baik karena anak atau bukan, lebih baik menghindar dulu dari anak. Hal ini agar anak tidak menjadi sasaran kemarahan yang berdampak negatif bagi anak. Orang tua sebaiknya belajar menahan diri agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Sikap manja sebetulnya wajar saja terjadi pada anak. Namun, bila berlebihan tentu tidak baik bagi tumbuh kembangnya. 

Sebagai orang tua, menunjukkan kasih sayang terhadap anak ditunjukkan dengan menuruti keinginannya tentu wajar saja, asalkan tidak berlebihan. Bila berlebihan, bisa membuat anak tidak menghargai orang tua dan cenderung menjadikan orang tua tidak berguna di mata anak


Tidak ada yang ingin memiliki anak manja dan tidak mandiri. Oleh karena itu, sikap dan perilaku orang tua harus benar-benar dijaga agar tidak sampai membuat anak terlalu bergantung dan manja.